Aisyah47's Blog

Just another WordPress.com weblog

Resume Ekologi Laut Tropis April 14, 2010

Filed under: marine ecology — Aisyah Tri Cahyani @ 4:31 pm

Di dalam ekologi laut tropis kita harus mengetahui dulu asal mula istilah Ekologi. Ekologi  pertama kali di gunakan oleh Haeckel 1860-an. Ekologi berasal dari kata Oigos yang berarti rumah dan Logos yang berarti ilmu. Mata kuncinya yaitu materi, energi dan informasi. Ekologi merupakan organisme abiotik dan biotik dengan lingkungannya. Ekologi bahari menitik beratkan pada totalitas atau pola, hubungan antar-jasad dan hubungan antara jasad dengan laut sebagai lingkungan hidup. Siklus terjadinya ekologi yaitu:atom→molekul→seljaringanindividupopulasikomunitasekosistem→ekologi

Laut mempunyai beberapa hal yang menarik di banding di daratan di antaranya :

  • Laut merupakan perairan yang dalam dan pada tiap kedalaman terdapat perbedaan habitat.
  • Air laut beredar tanpa henti, perbedaan suhu udara wilayah kutub dan wilayah tropik mengakibatkan angin kencang.
  • Laut di pengaruhi oleh jenis gelombang dan pasut ( tide )  yang merupakan akibat daya tarik bulan dan matahari.
  • Air laut merupakan suatu larutan garam.

Selain itu ada juga hubungan laut dengan hubungan hidup bahari yaitu :

  • Laut untuk penghubung antar bagian bumi
  • Sebagai sumber makanan untuk melengkapi bahan makanan yang ada di daratan contoh : ikan,cumi-cumi dan lain-lain.
  • Sebagai sumber energi, ( minyak bumi ) karena terdapat fosil di lepas pantai
  • Keanekaragaman yang sangat tinggi, khususnya  laut tropik

Banyak hal yang membedakan karakteristik dari laut tropik dengan yang lainnya :

  • Laut Tropik : hanya ada dua musim yaitu kemarau dan hujan. Pada laut tropik matahari akan menyinari terus menerus sepanjang tahun. Hewan yang hidup predator tinggi ( hiu,tuna,setuhuk,lansetfish ) dan predator lainnya (lumba-lumba, cumi-cumi).
  • Laut Subtropik : terdapat empat musim yaitu semi, gugur, dingin dan panas. Hewan yang hidup predator tinggi ( lumba-lumba, anjing laut dan singa laut, paus dan burung-burung laut ) dan predator lainnya( salem dan cumi-cumi ).
  • Laut Kutub : pada laut kutub masa produktifitas sangat pendek. Hewan yang hidup predator tinggi ( paus ) dan predator lainnya ( anjing laut dan singa laut ).

Hewan yang berada di laut tropik, laut subtropik dan laut kutub biasanya memiliki habitat yang berbeda-beda. Perbedaan itu juga terdapat pada relung dan adaptasinya. Adaptasi ada tiga golongan yaitu adaptasi fisiologis, adaptasi morfologi dan adaptasi kultural. Selain itu pula ada hewan yang tidak mengalami adaptasi di sebut maladaptasi. Seperti contoh pada terumbu karang akan mengalami proses bleaching ( tidak bisa menerima air yang ekstrim ).

Proses adaptasi yang terus-menerus menyebabkan evolusi. Evolusi bersifat terarah dan dapat di turunkan. Evolusi di temukan oleh Charles Darwin. Selain itu pula evolusi melahirkan makhluk hidup yang jenisnya baru.

Istilah relung hampir sama dengan niche namun yang membedakan dalam peranannya dalam komunitas dan posisinya pada gradien lingkungan seperti temperatur, kelembaban, pH, tanah dan kondisi lain. Konsep relung (niche) dikembangkan oleh Charles Elton (1927) ilmuwan Inggris. Niche tidak hanya tergantung di mana organisme tadi hidup, tetapi juga pada apa yang dilakukan organisme termasuk mengubah energi, bertingkah laku, bereaksi, mengubah lingkungan fisik maupun biologi dan bagaimana organisme dihambat oleh spesies lain. Selain itu pula pengetahuan tentang niche, sebagai landasan untuk memahami berfungsinya suatu komunitas dan ekosistem dalam habitat utama.

Suksesi hampir sama dengan asal mula kehidupan di dunia. Suksesi terbagi atas 2 :

  • Suksesi yakni primer, organisme mulai menempati wilayah baru yang belum ada kehidupan contohnya delta
  • Sekunder, terjadi setelah komunitas yang ada menderita gangguan yang besar sebagai contoh sebuah komunitas klimaks (stabil) hancur karena terjadinya kebakaran hutan

Di setiap ekosistem terdapat faktor pembatas untuk beradaptasi dengan lingkungan hidupnya :

  1. Proses kehidupan dan kegiatan makhluk hidup pada dasarnya akan dipengaruhi dan mempengaruhi faktor-faktor lingkungan, seperti cahaya, suhu atau nutrien dalam jumlah minimum dan maksimum.
  2. Tumbuhan untuk dapat hidup dan tumbuh dengan baik membutuhkan sejumlah nutrien tertentu (misalnya unsur-unsur nitrat dan fosfat) dalam jumlah minimum. Dalam hal ini unsur-unsur tersebut sebagai faktor ekologi berperan sebagai faktor pembatas.
  3. Pada dasarnya secara alami kehidupannya dibatasi oleh: jumlah dan variabilitas unsur-unsur faktor lingkungan tertentu (seperti nutrien, suhu udara) sebagai kebutuhan minimum, dan batas toleransi tumbuhan terhadap faktor atau sejumlah faktor lingkungan.

Dalam makhluk hidup terjadi siklus biogeokimia yang merupakan aliran energi untuk makhluk hidup lainnya. Siklus berlangsung terus-menerus dan Biogeokimia adanya perubahan dari biosfer yang hidup dan tak hidup yang menyangkut materi. Sedangkan siklus biogeokimia atau siklus organikarogaik  adalah siklus unsur atau senyawa kimia yang mengalir dari komponen abiotik ke biotik dan kembali lagi ke komponen abiotik. Fungsi biogeokimia yaitu untuk mengendalikan  unsur kimia yang telah terpakai dan hanya sekitar 30-40%  unsur yang terpakai.

Siklus biogeokimia terdapat nutient di mana nutrient tersebut  masuk ke ekosistem melalui weathering, atmospheric input, biological nitrogen fixation, dan immigration. Kemudian nutrient tersebut keluar dari ekosistem melalui erosian, leaching atau intrusi ( dari air tanah ), gaseous losses ( pembuangan berupa gas ), dan emigration dan harvesting.

Siklus biogeokimia terjadi beberapa siklus di antaranya siklus nitrogen, siklus fosfor dan siklus karbon dan oksigen.

  1. Siklus nitrogen : Dalam siklus ini nitrogen juga biasanya bereaksi dengan oksigen dan hidrogen dengan bantuan kilat/petir. Siklus ini awal mula nya  terjadi di tumbuhan, tumbuhan tersebut memperoleh nitrogen dari dalam tanah berupa amonia (NH3) ,ion nitrit (N02-) ,dan ion nitrat (N03-).
  2. Siklus fosfor : Di alam, fosfor terdapat dalam dua bentuk, yaitu senyawa fosfat organik (pada tumbuhan dan hewan ) dan senyawa fosfat anorganik ( pada air dan tanah ). Dalam fosfat organik dari hewan dan tumbuhan yang mati di uraikan oleh dekomposer ( pengurai ) menjadi fosfat anorganik. Kemudian fosfat anorganik yang terlarut di air tanah atau air laut akan terkikis dan mengendap di sedimen laut. Fosfat dari batu dan fosil terkikis dan membentuk fosfat anorganik terlarut di air tanah dan laut. Dan fosfat anorganik ini akan di serap oleh akar tumbuhan kembali.
  3. Siklus karbon dan oksigen : Dalam siklus biogeokimia siklus ini merupakan siklus terbesar. Ada tiga hal yang terjadi pada karbon yaitu tinggal dalam tubuh, di respirasi oleh manusia dan sampah/sisa.

Dalam setiap ekosistem baik padang lamun, mangrove dan yang lainnya pasti terbentuk sistem pengeloaan sumber daya wilayah pesisir dan lautan secara terpadu. Sistem pengelolaan sumber daya wilayah pesisir dan lautan secara terpadu di kenal juga dengan Integrated Coastal Zone Management (ICZM),Integrated Coastal Zona Planning and Management dan yang lainnya. Pengertian Integrated Coastal Zone Management yaitu  “Pengelolaan pemanfaatan sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan yang terdapat di kawasan pesisir dengan cara melakukan penilaian secara menyeluruh (Comprehensive assessment).”

Di Indonesia terdapat beberapa potensi sumber daya alam pesisir dan laut di antaranya yaitu :

v     Terumbu karangà menyediakan berbagai barang dan jasa untuk makanan dan mata pencaharian, pariwisata, sumber bahan obat dan kosmetik, habitat Perlindungan dan bertelur

v     Mangrove à nursery ground, spawning, dan feeding ground banyak spesiesikan dan udang dan memberikan perlindungan terhadap gelombang

v     Lamun/seagrass à nursery ground, daerah pencarian makan bagi mamalia laut

v     Rumput laut/seaweed à pangan dan obat-obatan

Wilayah sumber daya alam terbagi atas pesisir dan lautan serta estuaria. Wilayah pesisir merupakan wilayah peralihan antara laut dan daratan, ke arah darat mencakup daerah yang masih terkena pengaruh percikan air laut atau pasang, dan ke arah laut meliputi daerah papaan benua. Perencanaan Terpadu untuk mengkoordinasikan dan mengarahkan berbagai aktivitas kegiatan. Terprogram untuk tujuan keharmonisan, optimal antara kepentingan lingkungan, pembangunan ekonomi dan keterlibatan masyarakat, pengaturan tata ruang. Sedangkan lautan merupakan satu kesatuan dari permukaan, kolom air sampai ke dasar dan bawah dasar laut. Di luar batas wilayah teritorial (3 sampai 12 mil) sbagai wilayah laut. Dan estuarina adalah teluk di pesisir yang sebagian tertutup, tempat air tawar dan air laut bertemu dan bercampur.

Di wilayah pesisir terdapat ekosistem mangrove, terumbu karang dan padang lamun. Ekosistem terumbu karang luasnya di Indonesia diperkirakan mencapai 60.000 km2, namun hanya 6,2% saja yang kondisinya baik. Tekanan terhadap keberadaan terumbu karang sebagian besar diakibatkan oleh kegiatan manusia. Manfaatnya mencegah terjadinya pengikisan pantai (abrasi), sebagai daya tarik wisata bahari dan secara global terumbu karang berfungsi sebagai pengendap kalsium yang mengalir dari sungai ke laut. Dan Karang memerlukan kondisi tertentu untuk dapat tumbuh dengan baik seperti :

  • Air dengan transparansi tinggi (jernih)
  • Suhu air yang berkisar antara 23 – 32 derajat celcius
  • Kedalaman perairan kurang dari 40 m
  • Salinitas yang berkisar antara 32 – 36 per mil
  • pH 7,5 – 8,5

Ancaman terhadap terumbu karang yaitu :

  • Pencemaran minyak dan industri.
  • Sedimentasi akibat erosi, penebangan hutan, pengerukan dan penambangan karang.
  • Peningkatan suhu permukaan laut.
  • Buangan limbah panas dari pembangkit tenaga listrik.
  • Pencemaran limbah domestik dan kelimpahan nutrien.
  • Penggunaan sianida dan bahan peledak untuk menangkap ikan.
  • Perusakan akibat jangkar kapal.

Ekosistem padang lamun ini merupakan ekosistem yang mempunyai produktivitas organik yang  tinggi. Fungsi ekologi yang penting yaitu sebagai feeding ground, spawning ground dan nursery ground beberapa jenis hewan yaitu udang dan ikan baranong serta sebagai peredam arus sehingga perairan dan sekitarnya menjadi tenang.

Ancaman terhadap padang lamun :

  • Pengerukan dan pengurugan dari aktivitas pembangunan (pemukiman pinggir laut, pelabuhan, industri dan saluran navigasi )
  • Pencemaran limbah industri terutama logam berat dan senyawa organoklorin
  • Pembuangan sampah organik
  • Pencemaran limbah pertanian
  • Pencemaran minyak dan industri

Ekosistem mangrove Hutan yang terutama tumbuh pada tanah lumpur aluvial di daerah pantai dan muara sungai yang dipengaruhi pasang surut air laut. Luas hutan mangrove di Indonesia merupakan yang terluas di dunia (2,5-3,5 juta Ha,18-23 % luas mangrove di dunia dan lebih luas dari Brasil).

Ancaman terhadap mangrove :

- Konversi hutan mangrove menjadi lahan tambak, pemukiman, pertanian, pelabuhan dan perindustrian

- Pencemaran limbah domestik dan bahan pencemar lainnya

- Penebangan ilegal


 

Ekologi Laut Tropis

Filed under: Uncategorized — Aisyah Tri Cahyani @ 2:37 pm

Di dalam ekologi laut tropis kita harus mengetahui dulu asal mula istilah Ekologi. Ekologi  pertama kali di gunakan oleh Haeckel 1860-an. Ekologi berasal dari kata Oigos yang berarti rumah dan Logos yang berarti ilmu. Mata kuncinya yaitu materi, energi dan informasi. Ekologi merupakan organisme abiotik dan biotik dengan lingkungannya. Ekologi bahari menitik beratkan pada totalitas atau pola, hubungan antar-jasad dan hubungan antara jasad dengan laut sebagai lingkungan hidup. Siklus terjadinya ekologi yaitu:atom→molekul→sel→jaringan→individu→populasi→komunitas→ekosistem→ekologi

Laut mempunyai beberapa hal yang menarik di banding di daratan di antaranya :

  • Laut merupakan perairan yang dalam dan pada tiap kedalaman terdapat perbedaan habitat.
  • Air laut beredar tanpa henti, perbedaan suhu udara wilayah kutub dan wilayah tropik mengakibatkan angin kencang.
  • Laut di pengaruhi oleh jenis gelombang dan pasut ( tide )  yang merupakan akibat daya tarik bulan dan matahari.
  • Air laut merupakan suatu larutan garam.

Selain itu ada juga hubungan laut dengan hubungan hidup bahari yaitu :

  • Laut untuk penghubung antar bagian bumi
  • Sebagai sumber makanan untuk melengkapi bahan makanan yang ada di daratan contoh : ikan,cumi-cumi dan lain-lain.
  • Sebagai sumber energi, ( minyak bumi ) karena terdapat fosil di lepas pantai
  • Keanekaragaman yang sangat tinggi, khususnya  laut tropik

Banyak hal yang membedakan karakteristik dari laut tropik dengan yang lainnya :

  • Laut Tropik : hanya ada dua musim yaitu kemarau dan hujan. Pada laut tropik matahari akan menyinari terus menerus sepanjang tahun. Hewan yang hidup predator tinggi ( hiu,tuna,setuhuk,lansetfish ) dan predator lainnya (lumba-lumba, cumi-cumi).
  • Laut Subtropik : terdapat empat musim yaitu semi, gugur, dingin dan panas. Hewan yang hidup predator tinggi ( lumba-lumba, anjing laut dan singa laut, paus dan burung-burung laut ) dan predator lainnya( salem dan cumi-cumi ).
  • Laut Kutub : pada laut kutub masa produktifitas sangat pendek. Hewan yang hidup predator tinggi ( paus ) dan predator lainnya ( anjing laut dan singa laut ).

Hewan yang berada di laut tropik, laut subtropik dan laut kutub biasanya memiliki habitat yang berbeda-beda. Perbedaan itu juga terdapat pada relung dan adaptasinya. Adaptasi ada tiga golongan yaitu adaptasi fisiologis, adaptasi morfologi dan adaptasi kultural. Selain itu pula ada hewan yang tidak mengalami adaptasi di sebut maladaptasi. Seperti contoh pada terumbu karang akan mengalami proses bleaching ( tidak bisa menerima air yang ekstrim.

Proses adaptasi yang terus-menerus menyebabkan evolusi. Evolusi bersifat terarah dan dapat di turunkan. Evolusi di temukan oleh Charles Darwin. Selain itu pula evolusi melahirkan makhluk hidup yang jenisnya baru.

Istilah relung hampir sama dengan niche namun yang membedakan dalam peranannya dalam komunitas dan posisinya pada gradient lingkungan seperti temperatur, kelembaban, pH, tanah dan kondisi lain. Konsep relung (niche) dikembangkan oleh Charles Elton (1927) ilmuwan Inggris. Niche tidak hanya tergantung di mana organisme tadi hidup, tetapi juga pada apa yang dilakukan organisme termasuk mengubah energi, bertingkah laku, bereaksi, mengubah lingkungan fisik maupun biologi dan bagaimana organisme dihambat oleh spesies lain. Selain itu pula pengetahuan tentang niche, sebagai landasan untuk memahami berfungsinya suatu komunitas dan ekosistem dalam habitat utama.

Di dalam niche terdapat aliran energi :

 

Suksesi hampir sama dengan asal mula kehidupan di dunia. Suksesi terbagi atas 2 :

  • Suksesi yakni primer, organisme mulai menempati wilayah baru yang belum ada kehidupan contohnya delta
  • Sekunder, terjadi setelah komunitas yang ada menderita gangguan yang besar sebagai contoh sebuah komunitas klimaks (stabil) hancur karena terjadinya kebakaran hutan

Di setiap ekosistem terdapat faktor pembatas untuk beradaptasi dengan lingkungan hidupnya :

  1. Proses kehidupan dan kegiatan makhluk hidup pada dasarnya akan dipengaruhi dan mempengaruhi faktor-faktor lingkungan, seperti cahaya, suhu atau nutrien dalam jumlah minimum dan maksimum.
  2. Tumbuhan untuk dapat hidup dan tumbuh dengan baik membutuhkan sejumlah nutrien tertentu (misalnya unsur-unsur nitrat dan fosfat) dalam jumlah minimum. Dalam hal ini unsur-unsur tersebut sebagai faktor ekologi berperan sebagai faktor pembatas.
  3. Pada dasarnya secara alami kehidupannya dibatasi oleh: jumlah dan variabilitas unsur-unsur faktor lingkungan tertentu (seperti nutrien, suhu udara) sebagai kebutuhan minimum, dan batas toleransi tumbuhan terhadap faktor atau sejumlah faktor lingkungan.

Dalam makhluk hidup terjadi siklus biogeokimia yang merupakan aliran energi untuk makhluk hidup lainnya. Siklus berlangsung terus-menerus dan Biogeokimia adanya perubahan dari biosfer yang hidup dan tak hidup yang menyangkut materi. Sedangkan siklus biogeokimia atau siklus organikarogaik  adalah siklus unsur atau senyawa kimia yang mengalir dari komponen abiotik ke biotik dan kembali lagi ke komponen abiotik. Fungsi biogeokimia yaitu untuk mengendalikan  unsur kimia yang telah terpakai dan hanya sekitar 30-40%  unsur yang terpakai.

Siklus biogeokimia terdapat nutient di mana nutrient tersebut  masuk ke ekosistem melalui wathering, atmospheric input, biological nitrogen fixation, dan immigration. Kemudian nutrient tersebut keluar dari ekosistem melalui erosian, leaching atau intrusi ( dari air tanah ), gaseous losses ( pembuangan berupa gas ), dan emigration dan harvesting.

Siklus biogeokimia terjadi beberapa siklus di antaranya siklus nitrogen, siklus fosfor dan siklus karbon dan oksigen.

  1. Siklus nitrogen : Dalam siklus ini nitrogen juga biasanya bereaksi dengan oksigen dan hidrogen dengan bantuan kilat/petir. Siklus ini awal mula nya  terjadi di tumbuhan, tumbuhan tersebut memperoleh nitrogen dari dalam tanah berupa amonia (NH3) ,ion nitrit (N02-) ,dan ion nitrat (N03-).

 

  1. Siklus fosfor : Di alam, fosfor terdapat dalam dua bentuk, yaitu senyawa fosfat organik (pada tumbuhan dan hewan ) dan senyawa fosfat anorganik ( pada air dan tanah ). Dalam fosfat organik dari hewan dan tumbuhan yang mati di uraikan oleh dekomposer ( pengurai ) menjadi fosfat anorganik. Kemudian fosfat anorganik yang terlarut di air tanah atau air laut akan terkikis dan mengendap di sedimen laut. Fosfat dari batu dan fosil terkikis dan membentuk fosfat anorganik terlarut di air tanah dan laut. Dan fosfat anorganik ini akan di serap oleh akar tumbuhan kembali.

 

 

  1. Siklus karbon dan oksigen : Dalam siklus biogeokimia siklus ini merupakan siklus terbesar. Ada tiga hal yang terjadi pada karbon yaitu tinggal dalam tubuh, di respirasi oleh manusia dan sampah/sisa.

Dalam setiap ekosistem baik padang lamun, mangrove dan yang lainnya pasti terbentuk sistem pengeloaan sumber daya wilayah pesisir dan lautan secara terpadu. Sistem pengelolaan sumber daya wilayah pesisir dan lautan secara terpadu di kenal juga dengan Integrated Coastal Zone Management (ICZM),Integrated Coastal Zona Planning and Management dan yang lainnya. Pengertian Integrated Coastal Zone Management yaitu  “Pengelolaan pemanfaatan sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan yang terdapat di kawasan pesisir dengan cara melakukan penilaian secara menyeluruh (Comprehensive assessment).”

Di Indonesia terdapat beberapa potensi sumber daya alam pesisir dan laut di antaranya yaitu :

v     Terumbu karangà menyediakan berbagai barang dan jasa untuk makanan dan mata pencaharian, pariwisata, sumber bahan obat dan kosmetik, habitat Perlindungan dan bertelur

v     Mangrove à nursery ground, spawning, dan feeding ground  banyak spesiesikan dan udang dan memberikan perlindungan terhadap gelombang

v     Lamun/seagrass à nursery ground, daerah pencarian makan bagi mamalia laut

v     Rumput laut/seaweed à pangan dan obat-obatan

 

Wilayah sumber daya alam terbagi atas pesisir dan lautan serta estuarina. Wilayah pesisir merupakan wilayah peralihan antara laut dan daratan, ke arah darat mencakup daerah yang masih terkena pengaruh percikan air laut atau pasang, dan ke arah laut meliputi daerah papaan benua. Perencanaan Terpadu untuk mengkoordinasikan dan mengarahkan berbagai aktivitas kegiatan. Terprogram untuk tujuan keharmonisan, optimal antara kepentingan lingkungan, pembangunan ekonomi dan keterlibatan masyarakat, pengaturan tata ruang. Sedangkan lautan merupakan satu kesatuan dari permukaan, kolom air sampai ke dasar dan bawah dasar laut. Di luar batas wilayah teritorial (3 sampai 12 mil) sbagai wilayah laut. Dan estuarina adalah teluk di pesisir yang sebagian tertutup, tempat air tawar dan air laut bertemu dan bercampur.

Di wilayah pesisir terdapat ekosistem mangrove, terumbu karang dan padang lamun. Ekosistem terumbu karang luasnya di Indonesia diperkirakan mencapai 60.000 km2, namun hanya 6,2% saja yang kondisinya baik. Tekanan terhadap keberadaan terumbu karang sebagian besar diakibatkan oleh kegiatan manusia. Manfaatnya mencegah terjadinya pengikisan pantai (abrasi), sebagai daya tarik wisata bahari dan secara global terumbu karang berfungsi sebagai pengendap kalsium yang mengalir dari sungai ke laut. Dan Karang memerlukan kondisi tertentu untuk dapat tumbuh dengan baik seperti :

  • Air dengan transparansi tinggi (jernih)
  • Suhu air yang berkisar antara 23 – 32 derajat celcius
  • Kedalaman perairan kurang dari 40 m
  • Salinitas yang berkisar antara 32 – 36 per mil
  • pH 7,5 – 8,5

Ancaman terhadap terumbu karang yaitu :

  • Pencemaran minyak dan industri.
  • Sedimentasi akibat erosi, penebangan hutan, pengerukan dan penambangan karang.
  • Peningkatan suhu permukaan laut.
  • Buangan limbah panas dari pembangkit tenaga listrik.
  • Pencemaran limbah domestik dan kelimpahan nutrien.
  • Penggunaan sianida dan bahan peledak untuk menangkap ikan.
  • Perusakan akibat jangkar kapal.

Ekosistem padang lamun ini merupakan ekosistem yang mempunyai produktivitas organik yang  tinggi. Fungsi ekologi yang penting yaitu sebagai feeding ground, spawning ground dan nursery ground beberapa jenis hewan yaitu udang dan ikan baranong serta sebagai peredam arus sehingga perairan dan sekitarnya menjadi tenang.

Ancaman terhadap padang lamun :

  • Pengerukan dan pengurugan dari aktivitas pembangunan (pemukiman pinggir laut, pelabuhan, industri dan saluran navigasi )
  • Pencemaran limbah industri terutama logam berat dan senyawa organoklorin
  • Pembuangan sampah organik
  • Pencemaran limbah pertanian
  • Pencemaran minyak dan industri

Ekosistem mangrove Hutan yang terutama tumbuh pada tanah lumpur aluvial di daerah pantai dan muara sungai yang dipengaruhi pasang surut air laut. Luas hutan mangrove di Indonesia merupakan yang terluas di dunia (2,5-3,5 juta Ha,18-23 % luas mangrove di dunia dan lebih luas dari Brasil).

Ancaman terhadap mangrove :

- Konversi hutan mangrove menjadi lahan tambak, pemukiman, pertanian, pelabuhan dan perindustrian

- Pencemaran limbah domestik dan bahan pencemar lainnya

- Penebangan ilegal

Ekosistem terumbu karang yang ada di Indonesia diperkirakan mencapai 60.000 km2, namun hanya 6,2% saja yang kondisinya baik.

 

Ancaman terhadap terumbu karang :

  • Pencemaran minyak dan industri,
  • Sedimentasi akibat erosi, penebangan hutan, pengerukan dan penambangan karang
  • Peningkatan suhu permukaan laut
  • Buangan limbah panas dari pembangkit tenaga listrik

 

 

EKOSISTEM MANGROVE DI TAMAN NASIONAL UJUNG KULON JAWA BARAT April 2, 2010

Filed under: marine ecology — Aisyah Tri Cahyani @ 4:14 am

Oleh : Aisyah Tri Cahyani & Kaulina Silvitiani

Kawasan hutan mangrove merupakan ciri khas wilayah pesisir (coastal) dengan ekosistem yang sangat kompleks. Ekosistem mangrove umumnya merupakan sistem peralihan dimana terjadi pertukaran material dan energi dari wilayah sekitar laut, perairan tawar dan ekosistem terestrial. Oleh karena itu kawasan mangrove dapat memberi dukungan terhadap keragaman jenis flora dan fauna laut, perairan tawar dan juga ekosistem darat.

Mangrove merupakan sumberdaya laut yang memiliki fungsi dan peran sangat penting, baik secara ekologis, sosial maupun ekonomis bagi biota lain dan mendukung kehidupan masyarakat yang berdiam di wilayah pesisir.

Peran dan fungsi ekologis dari hutan mangrove antara lain sebagai tempat tinggal sementara atau tetap, mencari makan, bereproduksi, memijah dan membesarkan anak bagi berbagai biota yang berasosiasi dengannya. Hutan mangrove juga berperan sebagai peredam pemanasan global, gudang plasma nutfah serta pelindung pantai dari hempasan gelombang.

Hutan mangrove merupakan kekayaan yang sangat besar dan unik yang hanya dimiliki oleh sedikit negara di daerah tropis yang harus dikelola dengan baik agar memberikan manfaat yang optimal secara lestari. Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan berbagai data dan informasi yang baik dan akurat meliputi berapa besar potensi mangrove, tempat keberadaannya, kondisi dan manfaat yang dapat diberikan serta pola pemanfaatannya. Data tersebut dapat diperoleh melalui program pengembangan sumber daya manusia yang terarah, penelitian yang komprehensif serta pendanaan yang memadai.

Taman Nasional Ujung Kulon merupakan salah satu kawasan ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah yang tersisa dan terluas di Jawa Barat, dan mempunyai beberapa ekosistem salah satunya ekosistem mangrove.

Gb 1. Ekosistem Mangrove di Ujung Kulon

Biasanya jenis mangrove yang ada di ujung kulon yaitu jenis Rhizophora apiculata atau Bruguiera parvifolia. Di ujung kulon terdapat beberapa satwa yang terdiri dari 35 jenis mamalia, 5 jenis primata, 59 jenis reptilia, 22 jenis amfibia, 240 jenis burung, 72 jenis insekta, 142 jenis ikan dan 33 jenis terumbu karang.

Pada kawasan ekosistem mangrove di ujung kulon terdapat banyak aliran energi atau rantai makananan. Karena di kawasan taman nasional ujung kulon terdapat banyak habitat sehingga banyak juga terjadinya kompetisi dalam mencari makanan. Dan manusia pun turut andil sebagai konsumen pada rantai makanan tersebut.

Rantai makanan yang terdapat pada ekosistem mangrove seperti contoh gambar di bawah ini :

Gb 2. Rantai makanan yang terjadi pada ekosistem mangrove

Aliran sungai akan membawa bahan-bahan organik dan daun-daun serta batang mangrove yang sudah tua, setelah itu bahan-bahan tersebut mengalami dekomposisi sebelum menjadi unsur hara. Pada saat daun-daun dan batang mangrove gugur dan jatuh di atas air atau lumpur yang lembab pada saat itulah terjadi proses dekomposisi bahan organik oleh jamur-jamur dan bakteri. Yang di ubah menjadi substrat yang lebih kecil dan lebih halus sehingga memungkinkan untuk dimakan oleh makhluk hidup lain seperti kepiting dan makhluk invertebrata lainnya. Kemudian terbentuklah partikel organik yang lebih kecil seperti feses (kotoran), setelah feses tersebut dimanfaatkan oleh organisme pemakan deposit dan menjadi feses yang lebih lembut lagi yang dan di manfaatkan oleh organisme penyaring makanan.

Dari hasil proses dekomposisi dan aktivitas bakteri dan jamur menghasilkan bahan organik yang mempunyai sifat terlarut dan kemudian dimanfaatkan kembali oleh organisme invertebrata dan organisme lainnya yang nantinya menghasilkan feses yang terlarut bersama bahan organik lainnya dan bahan organik tersebut terbawa arus dan kemudian akan tersangkut di ekosistem mangrove. Bahan terlarut tersebut di manfaatkan oleh fitoplankton sebagai produsen  melalui proses fotosintesis. Fitoplankton kemudian akan di makan oleh zooplankton. Zooplankton akan di makan kembali oleh ikan dan invertebrata lainnya. Maka di sini terjadi aliran energi makanan melalui proses dekomposisi.

Rantai ini di mulai dengan  produksi karbohidrat dan karbon oleh tumbuhan melalui proses Fotosintesis. Sampah daun kemudian dihancurkan oleh amphipoda dan kepiting. Proses dekomposisi berlanjut melalui pembusukan daun detritus secara mikrobial dan jamur  dan penggunaan ulang partikel detrital (dalam bentuk feses) oleh bermacam-macam detritivor, diawali dengan invertebrata meiofauna dan diakhiri dengan suatu spesies semacam cacing, moluska, udang-udangan dan kepiting yang selanjutnya dalam siklus di mangsa oleh karnivora tingkat rendah. Rantai makanan diakhiri dengan karnivora tingkat tinggi seperti ikan besar, burung pemangsa, kucing liar atau manusia.

Contoh di mana manusia menjadi salah satu konsumen. Seperti gambar di bawah ini :

Gb 3. Manusia menjadi salah satu konsumen di dalam rantai makanan pada ekosistem mangrove

Daur energi pada ekosistem mangrove

Gb. 4 Rantai Makanan dan Tingkatan Trofik

Produsen

Tumbuhan menjadi tingkatan trofik pertama karena sebagai produsen dan awal dari aliran energi.

Konsumen primer

Tumbuhan menjadi makanan bagi hewan herbivora dan menjadi tingkatan trofik 2.

Konsumen sekunder

Hewan pemakan tumbuhan (herbivora) menjadi makanan oleh hewan karnivora dan menjadi tingkatan trofik 3

Dekomposer

Hewan tingkat trofik 3 mengalami kematian dan kemudian di urai oleh dekomposer.

Daftar Pustaka

Anonim.2008.Taman Nasional Ujung Kulon.http://www.dephut.go.id.

Anonim.Fauna mangrove dan di interaksi mangrove.http://web.ipb.ac.id.

R,kasijan.2007.Biologi Laut cetakan ketiga.Jakarta:Djambatan.

Aisyah Tri Cahyani,penulis lahir di kota yang indah bekasi pada tangggal 3 januari. Penulis telah menyelesaikan Sekolah Menengah Atas 1 Tambun Utara Kab. Bekasi. Sekarang penulis sedang menempuh strata 1 jurusan ilmu kelautan universitas padjadjaran. Hobi penulis Jalan-jalan dan bercerita. Seeorang mempunyai masalah masing-masing bagaimana kita dapat menyelesaikannaya.

 

Maret 21, 2010

Filed under: Uncategorized — Aisyah Tri Cahyani @ 7:05 am

KONVERSI LAHAN LAHAN PESISIR DI PESISIR SUMATERA UTARA

by : Aisyah Tri Cahyani & Kaulina Silvitiani

Dulu tanah rawa dianggap area yang terbengkalai dan merupakan pemborosan kalau tidak di manfaatkan. Karenanya banyak tanah rawa yang di timbun untuk berbagai keperluan seperti perumahan, lapangan olahraga dan lain-lain. Akan tetapi tidak semua tanah rawa sama sifatnya. Rawa mangrove adalah salah satu jenis tanah rawa yang terdapat di wilayah pantai dengan sifatnya yang unik, yang berbeda dengan rawa-rawa air tawar dan tanah gambut. Sumbangan terbesar dari rawa mangrove bagi kita adalah karena ia menunjang produksi makanan laut dengan menyediakan zat hara ke danau-danau pantai dan ke perairan pantai sekitarnya serta berlaku sebagai daerah asuhan untuk berbagai jenis Crustacea dan ikan.

Kata mangrove di duga berasal dari bahasa Melayu manggi-manggi, yaitu nama yang di berikan kepada mangrove merah ( Rhizhophora spp). Nama mangrove di berikan pada jenis tumbuh-tumbuhan yang tumbuh di pantai atau goba-goba yang menyesuaikan diri pada keadaan asin. Kadang-kadang kata mangrove juga berarti suatu komunitas         ( mangrove ). Sering kita jumpai kata mangal untuk komunitas mangrove dan untuk mangrove sebagai jenis tumbuh-tumbuhan.

Ekosistem mangrove di definisikan sebagai mintakat pasut dan mintakat supra-pasut dari pantai berlumpur dan teluk, goba dan estuari yang di dominasi oleh halofita     ( Halophyta ), yakni tumbuh-tumbuhan yang hidup di air asin dan beradaptasi tinggi, yang berkaitan dengan anak sungai, rawa dan banjiran, bersama-sama dengan populasi tumbuh-tumbuhan dan hewan. Ekosistem mangrove terdiri dari 2 bagian, bagian daratan dan bagian perairan. Bagian perairan juga terdiri dari 2 bagian yakni tawar dan laut. Ekosistem mangrove terkenal sangat produktif, rapuh dan penuh sumber daya. Ekosistem mangrove juga di artikan sebagai ekosistem yang mendapat subsidi energi karena arus pasut banyak membantu dalam menyebarkan zat-zat hara.

Substrat yang ada di ekosistem mangrove merupakan tempat yang sangat disukai oleh biota yang hidupnya di dasar perairan atau bentos. Dan kehidupan beberapa biota tersebut erat kaitannya dengan distribusi ekosistem mangrove itu sendiri. Sebagai contoh adalah kepiting yang sangat mudah untuk membuat liang pada substrat lunak yang ditemukan di ekosistem mangrove.

Ekosistem mangrove yang teradi karena perpaduan antara habitat-habitat yang bertentangan adalah unik. Untuk menghadapi lingkungan yang unik ini jasad-jasad hidup yang hidup dilingkungan ini telah mengembangkan kemampuan menyesuaikan diri dengan keadaan yang unik tersebut. Contohnya hampir semua tumbuhan mangrove mempunyai kutikula yang tebal untuk menyimpan air. Selain itu, mangrove mempunayi sifat lain seperti stomata yang membenam. Sifat-sifat yang berkaitan dengan penyimpanan air selain oleh asinnya air di sekitar sistem akar mungkin juga di akibatkan sengatan matahari yang tajam, suhu tinggi dan angin yang keras.

Banyak masyarakat khususnya di Indonesia tidak menyadari fungsi dan manfaat dari sebuah lahan. Padahal semua lahan yang di dunia ini mempunyai fungsi dan manfaat masing-masing. Seperti contoh pada study kasus konversi lahan pesisir di pesisir Sumatera Utara. Di mana, ekosistem mangrove di konversi menjadi lahan kelapa sawit.

Konversi pada sebuah lahan akan mempengaruhi perubahan rantai makanan, rantai energi dan siklus pemangsa dan di mangsa. Sebagaimana kita ketahui ekosistem mangrove di huni berbagai jenis habitat. Sebagai contoh rantai makanan dan energi yang ada di mangrove adalah matahari sebagai energi fotosintesis untuk hutan mangrove-daun mangrove gugur di gunakan oleh detritus yang kemudian detritus menggunakan karbon untuk respirasi-detritus tersebut di makan oleh kepiting-kepiting di makan ikan kecil-dan terakhir di makan oleh bangau yang kemudian bangau tersebut berespirasi mengeluarkan oksigen.

Gb.1 Contoh lain dari ekosistem mangrove

Pada konversi lahan pesisir di pesisir Sumatera Utara oleh lahan perkebunan kelapa sawit menyebabkan dampak :

1. Lingkungan : air di daerah tersebut menjadi tercemar akibat pemakaian pestisida yang di pakai oleh tanaman kelapa sawit.

2. Dampak ekologi perkebunan kelapa sawit : meningkatkan level CO2 ( karbon diokasida ) di atmoster, hilangnya keanekaragaman hayati dan ekosistem hutan hujan tropis, serta plasma nutfah, hilangnya sejumlah sumber air, sehingga memicu kekeringan, peningkatan suhu, dan gas rumah kaca yang mendorong terjadinya bencana alam, berkurangnya kawasan resapan air, sehingga pada musim hujan akan mengakibatkan banjir karena lahan tidak mempunyai kemampuan menyerap dan menahan air, kehancuran habitat flora dan fauna yang mengakibatkan konflik antar satwa, maupun konflik satwa dengan manusia.

3. Udara : pada saat pembukaan lahan kelapa sawit yang dilakukan dengan pembakaran akan mengakibatkan pencemaran asap, meningkatkan suhu udara, dan perubahan iklim. Akibat pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit  menghasilkan ekspor kabut ke Malaysia dan Singapura.

Perubahan alih fungsi hutan  mangrove menjadi perkebunan kelapa sawit mengakibatkan terjadinya konflik dengan masyarakat sekitar hutan mangrove. Hal ini di sebabkan masyarakat sekitar hutan mangrove telah mengganggap hutan adalah bagian dari pendapatan dan sumber makanan dan obat-obatan. Dengan adanya perkebunan, maka fungsi hutan mangrove bagi masyarakat  berkurang. Selain itu juga terjadi konflik antara perusahaan dan masyarakat sekitar yang disebabkan oleh konflik kepemilikan lahan atau karena limbah yang dihasilkan oleh industri kelapa sawit.

Selain itu pula rantai makanan, rantai energi dan siklus pemangsa dan di mangsa juga berubah. Pada rantai makanan terjadi perubahan yang sangat drastis yaitu munculnya habitat baru dan adaptasi yang baru. Dan pada rantai energi berubah karena banyaknya bahan kimia yang di gunakan pada pemeliharaan kelapa sawit seperti pestisida yang masuk ke dalam tanah dan mencemari air. Sedangkan pada siklus pemangsa dan di mangsa berubah sama seperti pada rantai makanan.

Kita sebagai masyarakat Indonesia harus menjaga fungsi dan manfaat lahan yang ada seperti pada ekosistem mangrove. Karena hutan mangrove banyak dihuni oleh biota-biota aquatic dan nonaquatik. Dan hutan mangrove mencegah dari perubahan iklim dan abrasi pantai.

 

Biological Pumping Januari 4, 2010

Filed under: Uncategorized — Aisyah Tri Cahyani @ 1:23 pm

Dalam samudra terjadi suatu siklus dan banyak sekali karbon yang terdapat di dalamnya. Dimana siklus tersebut merupakan siklus biologi yang di pengaruhi oleh bahan organic dan fitoplankton sebagai pengurainya. Jadi, biological pumping merupakan proses dimana CO2 mengalami fotosintesis ke bagian dalam laut yang mengakibatkan penyimpanan karbon secara permanen atau sementara dari zona eufotik ke laut interior. Ada 2 mekanisme penyerapan karbon di atmosfer diantaranya Physic Pumping dan Biological Pumping. Proses terjadinya biological pumping pada awalnya matahari menyinari laut dalam bentuk cahaya kemudian fitoplankton yang terdapat di dalam air laut mengalami fotosintesis. Karbon mencapai laut dalam dengan downwelling berupa partikel karbon organik dan karbon anorganik seperti kalsium karbonat (CaCO 3). Yang pertama adalah komponen dari semua organisme, yang terakhir organisme yang kulitnya keras, misalnya coccolithophores, foraminiferans atau pteropods. Dalam referensi untuk berbagai penggunaan materi-materi dalam organisme, yang organik bagian karbon transportasi ini dikenal sebagai pompa jaringan lunak, sementara anorganik karbon bagian ini dikenal sebagai jaringan keras pompa. Fitoplankton memakan bakteri sehingga menghasilkan agregat. Agregat tersebut dikonsumsi oleh herbifora yang kemudian menghasilkan kotoran. Agregat tersebut didekomposisi oleh bakteri atau dimakan lagi oleh hewan. Beberapa teroksidasi, melepaskan CO2, nitrat, dan fosfat, dan daur ulang gizi ke dalam air yang dalam. Sisanya mengendap menjadi sedimen; organik yang kaya karbon terkubur ribuan tahun yang lalu di dalam zona Afotik dan pesisir yang merupakan sumber minyak dan gas lepas pantai. Dalam fiksasi karbon, nutrisi yang terdapat dalam laut akan mengalami terus-menerus namun air di permukaan tidak mengandung nutrisi lagi.Faktor yang mempengaruhi CO2 di dalam laut yaitu antara lain : kecepatan angin, tekanan parsial antar muka air laut, temperatur dan salinitas air laut. Jadi, semakin dingin air laut maka semakin cepat daya larutnya sehingga daya serap terhadap CO2 semakin cepat.

Tanpa mekanisme biological pumping, konsentrasi CO 2 di atmosfer akan jauh lebih tinggi-dan karena atmosfer CO 2 menangkap panas, suhu permukaan bumi akan jauh lebih tinggi. “Jika tidak ada fitoplankton, pompa biologis dan siklus lautan yang mengalami respirasi dari atas ke bawah dan semua CO 2 di dalam lautan tidak mengalami keseimbangan dengan atmosfer-konsentrasi CO 2 di atmosfer akan lebih dua kali lipat, “kata MIT’s Chisholm. “karena Fitoplankton menjaga pompa biological ke bawah.”

Faktor-faktor yang menghambat proses pompa biological yaitu :

1. Di samudra mengalami global warming ( pemanasan global ) peningkatan fitoplankton di lintang rendah dengan meningkatnya suhu disebabkan karena zat hara yang tidak mencukupi di dalam laut, sehingga mempengaruhi produksinya.

2. Di samudra mengalami global warming ( pemanasan global ) peningkatan fitoplankton di lintang tinggi disebabkan meningkatnya curah hujan sehingga cahaya yang masuk ke dalam laut sedikit dan memungkinkan memproduksi yang baru.

3. Perubahan suhu, stratifikasi dan kimia yang akan terjadi selama abad ini dan masa depan akan menyebabkan perubahan dalam kelompok-kelompok fungsional biogeografi. Di antaranya adalah produksi Diatom menuju Antartika di Samudra Selatan akibat penurunan pasokan silikat; penurunan klasifikasi karena penurunan CO 3 2 - konsentrasi ion (misalnya, Kleypas, 1999); dan perubahan dalam N 2 yang mengalami fiksasi akibat dari peningkatan stratifikasi dan modifikasi dalam pasokan nutrisi dan suplai besi oleh debu.

4. Pemahaman kita tentang kepekaan f-rasio temperatur bahwa pemanasan dapat menyebabkan peningkatan efisiensi daur ulang nutrisi dalam zona euphotic (f-ratio/increased penurunan produksi untuk pasokan nutrisi yang diberikan) di eutrophic dan sistem mesotrophic (Hukum, 2000). Sebaliknya oligotrophic dapat terjadi di daerah, di mana pemanasan dapat mengakibatkan peningkatan f-ratio.

Kabon sebagai pompa biologis memainkan peran penting juga dalam siklus karbon Bumi, upaya signifikan dihabiskan untuk mengukur kekuatannya. Namun, karena mereka terjadi sebagai akibat interaksi ekologi buruk biasanya di zona Afotik, proses-proses yang membentuk pompa biologis sangat sulit untuk diukur. Metode ini dipakai untuk memperkirakan produksi primer dari nitrat dan amonium sebagai sumber nutrisi yang tenggelam. Dari produksi nitrat dan amonium memungkinkan untuk mendapatkan yang disebut f-rasio, proxy untuk kekuatan lokal pompa biologis. Menerapkan hasil penelitian lokal untuk skala global rumit karena sirkulasi laut terus berbutar di daerah laut yang berbeda. Sehingga harus menggunakan penelitian secara global.

Alan mengutip data satelit dan hasil penelitian lapangan yang sudah memperhitungkan faktor solubility pump maupun biological pump, yang dilakukan Taro Takahashi, pakar geokimia laut di Observatorium Bumi di University of Columbia, Amerika Serikat. Faktor yang pertama dihitung menggunakan selisih tekanan parsial CO2 di udara dan air laut, sedangkan faktor kedua memperhitungkan proses respirasi fitoplankton, rantai makanan, dekomposisi, sampai proses upwelling dan larutnya karbon anorganik.

www. Habitable the planet.com/ Biological Pump”.

http://www.korantempo.com/ korantempo/koran/2009/12/08/Ilmu_dan_Teknologi/krn.20091208.184102.id.html.

www.climate change.com/ the biological carbon pompa.

www.wikipedia.com/ pompa biologi.

Matear, RJ dan AC Hirst. 1999. 1999. Climate change feedback on the future oceanic CO 2 uptake, Tellus, 51B, 722-733. Perubahan iklim umpan balik pada masa depan penyerapan CO 2 samudera, Tellus, 51B, 722-733.

 

Biological Pumping Desember 15, 2009

Filed under: Uncategorized — Aisyah Tri Cahyani @ 3:06 pm
 

Hello world! Desember 13, 2009

Filed under: Uncategorized — Aisyah Tri Cahyani @ 1:10 pm

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

 

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.